Minggu, 25 Desember 2016

Cedera Saat Bermain Sepak Bola


Pagi ini tim kembali bermain di Lapangan Progresif; melawan tim CPP. Saya datang telat dan pemain benar-benar pas 11 orang menjelang kick-off. Dengan persiapan yang seadanya terpaksalah langsung bermain saja pemanasan pun nyolong-nyolong kesempatan di lapang. Hehe

Baru 5 menit pertandingan berjalan saya terpaksa harus melakukan sliding untuk mencegah crossing dari musuh. Sliding berhasil dengan bersih. Tapi sayang kaki kiri yang dilipat saat melakukan sliding harus menggasak lapang sintetis yang dipenuhin serbuk karet hitam kasar. Hasilnya lutut kiri pun terluka cukup lebar. Selain itu, bagian bawah yang tertutupi kaos kaki juga terasa perih; ternyata terdapat luka gesekan juga yang cukup lebar meskipun tidak separah luka pada lutut.

Sebetulnya sakitnya belum terlalu terasa, tapi supaya tidak lebih parah (karena pasti harus melakuka sliding lagi) saya langsung ke samping lapangan untuk menggunakan pelindung lutut yang sebelumnya saya tidak sempat pakai karena buru-buru.

Pelajaran yang didapat :
- Sebisa mungkin datang lebih pagi supaya persiapan lebih matang.
- Selalu gunakan perlengkapan lengkap terutama pelindung lutut jika bermain di posisi defender.
- Saat membeli kaos kaki upayakan untuk memilih yang berbahan tebal walau mungkin harganya sedikit lebih mahal karena ternyata kaos kaki berbahan tipis tidak mampu meredam gesekan antara dasar lapangan sintetis dengan kulit.

Mesikpun demikian overall saya senang sekali karena pada match tadi dapat berkontribusi cukup baik pada tim. Dan tim juga bermain dengan enjoy.

Pagi nanti rencananya akan jogging bersama si cinta dan teman-teman di Arcamanik Sport Center; semoga tidak berpengaruh jelek pada luka.


Lapang Progresif 24 Desember 2016

Kamis, 26 Mei 2016

Sepak Bola di Lapang Progresif vs Muthahari FC


Sabtu tanggal 30 April yang lalu saya dan tim kembali bermain sepakbola di Lapang Progresif. Kali ini merupakan laga persahabatan antara tim Soccer is Fun (teman-teman kantor & kerabat) vs Muthahari FC. Event ini agak berbeda dari biasanya. Biasanya perlu effort yang lumayan untuk mengumpulkan para pemain, tapi setiap kali bermain di Progresif pemain kami selalu berlimpah :))

Kami bermain sejak pukul 06.30-08.00. Beberapa teman sudah di lapang sejak pukul 06.00. Normalnya, untuk lapang besar kami biasa bermain pukul 07.00 dan pukul 08.00 untuk futsal. Pertimbangannya biasanya ialah faktor cuaca, bila bermain outdoor biasanya semakin siang semakin terasa panasnya.

Sampai kick-off dimulai ternyata skuad Muthahari FC masih belum lengkap, maka sebagian pemain kami bergabung dulu dengan skuad Muthahari FC, diantaranya : Mas Ali, Mas Angga, & Isal. Untuk match kali ini, berdasarkan instruksi dari coach Rayyan Conte kami menerapkan strategi deep defensive line, yaitu posisi pemain bek yang full bertahan; tidak maju lebih dari seperempat area lapang.

Pertimbangannya adalah untuk mengantisipasi umpan-umpan terobosan yang harus memaksa bek untuk beradu sprint dengan striker musuh. Dengan demikian kami sama sekali tidak menerapkan jebakan offside. Mengapa? pertimbangan utamanya ialah faktor fisik & tidak adanya hakim garis (hanya ada wasit utama). Kami merasa bahwa jebakan offside berpeluang besar untuk gagal. Baik dikarenakan gagal karena tidak dianggap oleh wasit, atau memang benar-benar gagal :)). Bila gagal, effort untuk mengejar bola jauh lebih sulit karena faktor fisik yang belum terlatih optimal untuk bermain di lapang besar (berbeda dengan futsal yang memiliki area sprint yang pendek).

Secara teoritis terlihat sempurna bukan? :)) Namun bukan sepakbola namanya bila tak ada dinamika dalam permainan. Saya berada diposisi center back, bertugas untuk mengatur kedalaman defensive line. Para defender berusaha sedisipllin mungkin untuk berada digaris yang sudah disepakati. Diluar perkiraan, saya melupakan efek dari strategi ini, yaitu bahwa musuh menjadi lebih leluasa untuk menggempur area pertahanan kami. Karena para defender sama sekali tidak mencoba untuk membantu melakukan pressing, maka kami benar-benar hanya membuang bola dan menunggu serangan berikutnya yang ternyata datang terus menerus. Hasilnya musuh benar-benar menguasai aliran bola, kami digempur habis-habisan.

Saya ingat betul, play maker di tim lawan (Pak Edi) benar-benar baik dalam mengatur tempo permainan dan membagi bola. Setelah serangan bertubi-tubi, Mas Alamsyah yang berada di posisi tengah berhasil menerobos ke area sebelah kanan pertahanan kami dan berhasil mengecoh kiper dengan melambungkan bola ke tiang jauh. Keadaan berubah menjadi 1-0 untuk kemenangan tim lawan. Setelahnya keadaan tidak jauh berbeda.

Kami pun bukannya tanpa peluang, namun memang seingat saya sering kandas di area tengah (untuk babak pertama saya kurang ingat, karena fokus bermain di belakang). Tidak lama berselang, Mas Alamsyah dengan pergerakan yang persis sama yaitu menusuk area pertahanan sisi kanan lalu melepaskan shooting mendatar ke tiang jauh berhasil membuat gol kedua sehingga skor menjadi 2-0. Lalu kami pun jeda istirahat untuk babak kedua.

Dibabak kedua terjadi pergantian pemain besar-besaran di kedua tim. Banyak pemain dari Muthahari FC yang sudah datang, sehingga Mas Ali & Mas Angga kembali bermain di tim kami, kecuali Isal yang masih bermain di tim musuh hingga pertandingan berakhir (betrayer nih Isal :))). Karena total pemain di tim kami cukup banyak, yaitu sekitar 20 orang. Maka hampir seluruh skuad di babak pertama diganti, termasuk saya.

Saya senang sekali dengan pergantian ini, selain untuk beristirahat ternyata kami berhasil melihat pola permainan musuh yang menekan mulai dari tengah lapang hingga bagian pertahanan kami. Awal babak pertama tim musuh sudah mencetak gol lagi, pemain sayap musuh berhasil melepaskan umpan crossing keras dari area pertahanan sebelah kiri, lalu berhasil disempurnakan oleh Agis yang tidak terjaga oleh bek. Skor menjadi 3-0. Tidak lama berselang kami sempat membalas (melalui gol dari mas motih kalau tidak salah, skema gol nya lupa T_T) sehingga merubah skor menjadi 3-1.

Setelah babak kedua berjalan 20 menit, para pemain musuh terus menekan dengan cara menarik pemain belakang mereka hingga setengah lapang. Kami bermain dengan tekanan dari setengah lapang. Saya & para pemain kami yang sedang beristirahat melihat ini dengan sangat jelas sehingga diputuskanlah untuk benar-benar menghilangkan strategi deep defensive line kami. Kesempatan datang, satu demi satu pemain yang beristirahat, termasuk saya, kini sudah dilapang. Kini para defender mencoba untuk bermain agresif dan ikut membantu menekan. Hasilnya ternyata sangat merubah keadaan. Kini keadaan berbalik kami menyerang tim lawan dari setengah lapang. Menurut analisa saya dengan memenuhi area tengah oleh defender dan mid fielder, play maker musuh menjadi tidak leluasa untuk membagi bola. Banyak sekali peluang yang kami peroleh, lebih banyak bila dibandingkan sebelumnya. Hingga akhirnya Mas Amir berhasil mencetak gol dengan shooting keras yang merubah keadaan menjadi 3-2.

Para defender pun bukannya tidak mendapat serangan, kami menjadi lebih sering sprint dan bermain lebih aktif memang, namun sangat sepadan dengan hasil yang didapatkan. Hingga peluit berbunyi skor tetap 3-2 untuk kemenangan lawan. Tapi saya pribadi merasa sangat senang karena berhasil merubah penguasaan permainan diakhir-akhir sisa pertandingan.

Diluar dari jalannya pertandingan & hasil yang didapat, kami senang karena laga digelar venue yang sangat bagus; para pemain Persib juga sering latihan di lapang Progresif ini :). Dengan lapang yang bagus para pemain dapat sedikit mengeliminir peluang untuk mendapatkan cedera & juga dapat bermain lebih maksimal tanpa kendala yang disebabkan oleh lapang, seperti arah bola yang berubah karena lapang tidak rata, laju bola yang tertahan oleh area becek, sprint yang tidak maksimal karena terdapat batu hingga garis lapang yang tidak terlihat.

Sabtu tanggal 28 ini, kami berencana untuk bermain kembali di lapang Progresif melawan tim CPP. Strategi sudah disiapkan kembali, bagaimana kira-kira hasilnya ya kali ini? :)

Meme Mas Motih buatan Kang Ope dari match sebelumnya di lapang Progresif 

*** foto lain menyusul ***

Selasa, 06 Januari 2015

Kebun Binatang


Setelah sekian lama -entah kapan terakhir kesana- akhirnya Sabtu kemarin saya dan beberapa orang teman pergi ke Kebun Binatang Bandung. Sebetulnya tujuan awalnya sih mau memancing di daerah Ciparay, cuma berhubung yang punya balongnya berhalangan akhirnya diputuskanlah untuk mencari alternatif liburan lain. Ada beberapa pilihan sebetulnya, seperti hiking ke taman wisata Curug Manglayang dan nongkrong di Bukit Moko. Namun dengan ajaib tiba-tiba diputuskanlah untuk main ke Kebun Binatang saja.
Dalam benak saya, seharusnya semua orang memang memiliki ketertarikan tersendiri untuk berkunjung kesana; berapapun usianya. Mungkin bisa juga disebut sebagai naluri, untuk mengunjungi spesies-spesies lain sesama penghuni bumi. Ya, semua berkumpul disana (termasuk kita kan? :P). Mereka semua adalah pemanis & pelengkap kehidupan manusia di bumi; sungguh Maha Agung yang menciptanya.
Dalam zaman modern seperti saat ini mereka (spesies-spesies lain) sering kali luput dari perhatian kita. Maksud saya, seberapa sering kita perhatikan semut-semut yang berlalu lalang di sekitar kita? betapa kaki-kaki kecil mereka sungguh ajaib; bisa berjalan disegala permukaan, horizontal & vertikal, seakan-akan hukum gravitasi berbaik hati pada mereka. Atau pernah dengarkah kita kisah para Elang Emas peliharaan penduduk Mongolia yang digunakan untuk berburu serigala?
Ya, rutinitas memang telah menyita sebagian energi dan pikiran kita. Kadang saya suka membayangkan, di zaman dulu, saat manusia hanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya saja (hanya bertani saja mungkin), sehingga lebih memiliki banyak waktu luang, apa yang mereka lakukan? Mungkin bisa jadi sisa waktunya digunakan untuk mengeksplor alam raya ini, flora & fauna -nya, seolah-olah memang naluri yang menuntunnya untuk dekat dengan alam. Itu hanya salah satu hipotesa saja bila kita ingin memandang bahwa beberapa masyarakat adat yang mengeramatkan suatu wilayah atau suatu spesies, sebetulnya berniat untuk menghargai mereka, lebih tinggi dari itu, menghargai penciptanya. Tapi itu hanya hipotesa saya saja sih, dan keliatannya interpretasi dari konsep itu kian memudar karena terkadang ritualnya dilakukan sangat serius sedangkan filosofinya tidak terlalu. Haduuuh ini ngomongin apa sih... -_-
Bagi saya, dalam setiap rupa spesies-spesies yang ada dimuka bumi, seluruhnya terkandung keajaiban, seluruhnya indah. Dulu saya sering memperhatikan motif dan tekstur dari helaian bulu-bulu merpati; bagi saya itu rumit dan indah. Atau seluruh pada burung merak -ujung paruh hingga ujung ekor? Menakjubkan. Bagaimana dengan seluruh yang ada pada burung elang? kawan saya menyimpulkannya dengan satu kata "Gagah".
Hal-hal diatas nampak lebih ajaib bila kita melihat kembali pada masa permulaannya; sebutir telur. Sebutir telur elang, menyimpan seluruh informasi dan karakteristik dari elang. Sehingga tak peduli siapa pun yang mengeraminya, ketika ia menetas ia tetaplah seekor elang yang akan tumbuh besar dengan paruhnya yang meruncing, dan seluruh keelokan lainnya. Ajaib, semuanya terkandung dalam sebutir telur!

"Oh Tuhan, sungguh Engkaulah Maha Pencipta yang paling sempurna, tiada sia-sia segala yang Kau cipta, demi hak Muhammad dan Keluarga Muhammad sebagaimana kau ciptakan bagi kami kehidupan di bumi-Mu maka tuntunlah kami untuk memahaminya."


Berhasil memfoto buaya yang sedang bejemur dari jarak yang cukup dekat

Sepasang burung Flaminggo dalam habitat buatan yang asri

Berfoto dengan ikan Arapaima sepanjang 1.8 m

Bersiap-siap 2 on 2 suit jepang

Harimau, salah satu lokasi yang paling populer di kebun binatang

Berfoto dengan salah satu hewan favorit saya, Elang; yang ini berjenis Ular Bido

Merak, tetap anggun dengan ekor terurai menyentuh tanah




Selasa, 30 Desember 2014

Bertemu Pak Presiden


Setelah sekian lama males ngeblog akhirnya malam ini memutuskan untuk nulis lagi. *hore*. Hari ini saya kembali berkunjung ke Indramayu tepatnya ke Karangsong; kali ini berdua dengan Mas Tisna dan kembali menginap di hotel yang sama. Walaupun sudah sering menginap disini, namun kali ini perlu perjuangan untuk menginap disini. Ternyata semua hotel di Indramayu kota sudah pada penuh untuk 2 hari kedepan. Kelihatannya semua pengunjung punya tujuan yang sama; bertemu Pak Presiden.
Besok, tanggal 18 Desember Pak Jokowi memang diagendakan untuk mengunjungi TPI Karangsong di Indramayu. TPI ini memang salah satu yang terbaik di Indonesia; pengelolanya ialah Koperasi Mina Sumitra. Bayangkan saja omzet selama 3 tahun terakhir berada dikisaran 300-400 Miliar Rupiah per Tahunnya. Dalam satu hari dengan jam operasional pkl 07.00 - 13.00 rupiah yang berputar bisa mencapai 1 M. Kalau Mas Tisna sih suka bergurau : "Ah ini sih bukan koperasi namanya.." :P
Sekedar catatan, saat ini di Indonesia TPI biasanya dikelola oleh 2 jenis institusi yaitu Koperasi dan Pemerintah melalui Dinas Perikanan. Kelebihan dan kekurangannya ? Nanti akan saya coba ungkapkan dari sudut pandang saya kalau ada kesempatan. :P
Kembali lagi ke Karangsong, banyak hal menarik yang saya temukan disini. Kantor tempat saya bekerja memang sudah memulai kerjasama dengan pihak KPL Mina Sumitra sejak bulan Mei tahun ini. Mulai dari sana banyak sudut pandang dan fakta-fakta baru yang saya ketahui tentang dunia dan kehidupan nelayan di Indonesia. Hal yang paling menarik disini ialah kesejahteraan nelayan yang dibilang sangat baik. Bayangkan saja untuk satu kali trip (melaut) seorang ABK bisa mendapatkan gaji hingga 8 juta rupiah! sedangkan Juru Mesin mendapat 1.5 kali lipat dan Nahkodanya 2 kali lipat dari ABK biasa. Waw, is that true ? yes!!!
Hal ini dapat terwujud karena Mina Sumitra sebagai pengelola TPI yang juga menyediakan layanan pinjaman untuk keperluan perbekalan melaut mewajibkan seluruh Kapal yang terdaftar wajib menerapkan sistem bagi hasil dalam pembagian upahnya. Komposisi bagi hasilnya ialah : 60% untuk juragan (pemilik kapal), 40% sisanya dibagi untuk ABK, jurumesin dan Nakhoda dengan porsi yang telah disebutkan sebelumnya. Sebetulnya juragan hanya mendapatkan 40%, karena 20% nya wajib digunakan untuk biaya maintenance kapal (mesin, alat tangkap, dll) untuk persiapan trip selanjutnya.
Ada banyak keuntungan dari sistem bagi hasil ini; selain sudah pasti nelayan lebih makmur, kapal juga cenderung lebih terawat. Loh apa hubungannya ya ? menurut salah seorang juragan yang sempat kami wawancarai, dengan sistem bagi hasil ABK akan juga merasa memiliki kapal, karena bila terjadi sesuatu pada kapal maka mereka pun akan merasakan dampaknya secara langsung (bagiannya berkurang karena harus memperbaiki kapal).
Kalau ada kesempatan mungkin akan saya tuliskan inovasi-inovasi lainnya yang telah dilakukan oleh KPL Mina Sumitra ini; barangkali bisa menginspirasi para pengelola TPI lainnya. :P
Sebetulnya judul posting kali ini saya akui sangat provokatif karena mungkin para pembaca mengira bahwa saya benar-benar berjumpa dua arah dengan Pak Jokowi; anggap saja saya sedang mengikuti gaya penjudulan berita oleh beberapa media mainstream belakangan ini. Hal serupa saya rasakan saat saya mengklik brita dengan judul : MU Incar Indra Sjafri dan Alfred Riedl. Yes I thought it was Manchester United. :P

17 Desember 2014

****

[Update]

Kembali lagi ke Pak Presiden dan acaranya. Ternyata acara tersebut diadakan oleh OJK dan LJK dengan agenda utama peluncuran Layanan Keuangan Mikro (LMK). Jadi ada sekitar ~8 bank besar yang berpartisipasi & memasang stand-nya disana. Dan..... ternyata Pak Presiden berhalangan hadir T_T. Beliau digantikan oleh Bapak Menko bidang Maritim. Meskipun demikian yang terpenting ialah agenda utama alias urusan kantor dengan KPL berhasil diselesaikan.


Gerbang Masuk TPI dirias sedemikian rupa untuk menyambut para tamu undangan


Kehadiran Pak Presiden menarik antusias warga untuk turut hadir di TPI


Pak Menko sedang blusukan diikuti oleh awak media; sayang gambarnya kurang jelas.


Suasana TPI saat acara berlangsung : terlihat sedikit lebih lengang dibandingkan hari-hari biasa.


Kapal-kapal berukuran 15-30 GT yang sedang atau baru selesai melakukan bongkar di area TPI


Mas Tisna berpose di panggung utama acara


30 Desember 2014

****
Sabtu, 27 Juli 2013

Mereka Disini..


Belakangan ini aku tengah sering terkagum-kagum dengan mereka para orang-orang inspiratif yang ku temui dalam keseharian. Diantara mereka ada seorang News Anchor wanita dari stasiun TV milik pemerintah yang telah memutuskan untuk "merantau" semenjak lulus SMK. Ada juga seorang kawan yang sekarang tinggal dan bekerja di Eropa. Juga ada pula sepasang suami istri yang menghabiskan waktunya selama bertahun-tahun bekerja negara Iran. Tentu saja rasa kagum pada mereka bervariatif, masing-masing memiliki keistimewaan tersendiri bagiku.
Sebagaimana aku yang masih sangat gemar untuk menelurusi jalan-jalan pencarian akan segala pemahaman akan makna-makna dibalik setiap sikap yang dapat mendamaikan hati, sedikit-banyaknya mereka semua memiliki andil tersendiri dalam mengisi relung-relung renungan ini.
Namun kini aku menyadari bahwa ternyata mereka, para orang-orang yang istimewa ini silih berganti berpapasan dalam keseharianku. Bagaimana bisa remaja pengedar kue itu, yang setiap hari tak pernah lelah mengunjungi kantorku untuk menawarkan dagangannya bisa luput begitu saja ? Bagaimana pula dengan kawanku yang baik itu ? yang tak pergi jauh untuk mengejar hal-hal duniawi yang berlebihan, yang dengan bahagia tinggal bersama kami untuk mengajari kami ? Lalu dan kakek tukang becak itu, yang tak pernah diam di becaknya, melainkan berdiri dipersimpangan untuk sekedar mengatur lalu lintas yang seringkali tidak terlalu ramai.itu ?
Seakan-akan aku memahami bahwa mereka semua memang sengaja Tuhan tebarkan di sekeliling kita 
sebagai bahan renungan bagi hamba-hamba-Nya.
Oh Tuhan, jangan biarkan diri kami berpaling dari rahmat serta petunjuk-Mu......
Sabtu, 25 Mei 2013

Model Pemimpin di Sekitar Kita


Preface    
      Sudah sekitar 1 tahun belakangan ini, secara aneh saya mulai tertarik untuk memperhatikan sosok-sosok pemimpin yang ada disekitar saya. Mulai dari Pak Gubernur, Pak Walikota, sampai para bakal calon dan calon-calonnya. Berawal dari sana saya ingin mencoba mengemukakan pengamatan pasif saya. Berbeda dengan studi akademis yang menuliskan seluruh dasar teori, semua hal yang saya tuliskan pada artikel ini adalah murni asumsi pribadi. Alasannya sederhana, yaitu karena saya belum berniat untuk membuat sebuah tulisan ilmiah yang serius. Terlebih pemerintahan ini bukanlah bidang saya seutuhnya, sehingga butuh effort yang sangat besar bagi saya untuk menuliskannya dengan metode ilmiah.

Lets Begin !
      Dulu jauh sebelum Jokowi tampil di pemilu Provinsi DKI Jakarta, saya pernah sekali melihat beliau di sebuah tayangan berita pada stasiun TV nasional. Saat itu saya ingat betul tayangannya menampilkan Jokowi (dulu saya tidak mengingat namanya) yang sedang menjabat sebagai Walikota Solo sedang blusukan sembari menyalami warga-warganya. Satu hal yang saya perhatikan saat itu ialah bahwa segala tindak-tanduk beliau saat itu benar-benar terlihat sangat tulus. Ini yang membuat saya menaruh simpati dan respect kepada beliau, begitupun bapak saya yang saat itu berada disamping saya.
      Setelah beberapa bulan dari sejak saat itu nama beliau mulai ramai dibicarakan seiring dengan pencalonan beliau di Pilkada DKI Jakarta. Sejak pertama kali saya mengetahui berita tersebut, sebetulnya saya sudah menaruh sikap optimis terhadap beliau. Padahal jika saya perhatikan, keyakinan saya ini hanya dikarenakan beberapa alasan yang sangat sederhana, yaitu bahwa saya meyakini beliau adalah orang yang tulus, berbuat (take action), & sederhana. Sederhana sekali, beliau adalah orang yang baik. Seakan-akan tersirat dari tiap gurat wajahnya bahwa dalam pencalonannya beliau tidak menyertakan niat-niat yang tersembunyi. Ya, hanya itu. Dalam benak saya, seakan-akan memang hanya itulah model pemimpin yang pas untuk memimpin Jakarta bahkan mungkin untuk daerah manapun di Indonesia.
      Mulai dari sini, saya meng-asumsikan bahwa secara garis besar model pemimpin yang ada disekitar kita terbagi menjadi dua, yaitu :
  1. Pemimpin Model Baru
  2. Pemimpin Model Lama
      Bagi saya Pilkada Jakarta kemarin benar-benar mengawali era bangkitnya para pemimpin dengan model baru, yaitu para pemimpin yang terlihat berbuat. Lagi-lagi terlihat sederhana, biasanya mereka tidak terlalu memperhatikan penampilan (penampilan ala pejabat, dibaca : pencitraan), mereka tidak suka tampil secara otoriter, tidak terlalu banyak birokrasi, tidak berleha-leha, tidak sok sibuk ga jelas (terlihat sibuk tapi tidak berbuat). Dan bagi saya mereka-mereka inilah sosok-sosok yang saat ini dibutuhkan oleh rakyat. Sosok yang memerintah dengan serius! Dan rakyat pun sudah mulai sadar akan hal itu.
      Apakah model pemimpin seperti ini baru ada pada era sekarang ? Saya rasa tidak! Saya meyakini bahwa orang-orang seperti mereka selau ada di setiap jaman. Hanya saja pada era sebelumnya, konsep mereka tidak laku. Saya malah membayangkan bila pertarungan antara pemimpin model baru dan pemimpin model lama terjadi di era Orde Lama atau Orde Baru, mungkin kemenangan telak berada di tangan sang pemimpin model lama  Bagi saya jawabannya simple saja, bahwa jaman dulu masyarakat lebih suka dengan pemimpin yang bergaya pejabat. Meskipun mereka tahu bahwa si pemimpin model baru memiliki kompetensi yang unggul, namun sepertinya mereka tetap akan condong kepada sosok yang memiliki gaya khas pejabat.
      Beralih ke pemimpin model lama. Bagi saya mereka ialah para pemimpin yang amat sangat mementingkan pencitraan. Mereka sangat senang memajang foto-foto mereka di ruang publik. Bahkan tidak jarang dengan ukuran yang amat sangat besar -_-. Seolah-olah pencitraan ini dilakukan untuk menutupi kinerja-kinerja mereka. Biasanya mereka selalu terlihat otoriter. Alih-alih merangkul rakyat, nampaknya mereka lebih merasa nyaman jika jauh dari rakyat (menutup telinga, pura-pura tidak melihat, tidak mencurahkan kepeduliaan penuh untuk rakyat). Namun di jaman sekarang ini, nampaknya rakyat sudah mulai bosan dengan mereka. Sayang sekali karena rakyat sudah mulai menyadari bahwa mereka hanya pemimpin yang ingin terlihat keren.
      Menyikapi Pilgub Jabar yang berlangsung beberapa bulan yang lalu ternyata cukup menarik juga. Beberapa bulan sebelum digelarnya Pilgub Jabar, jalan-jalan besar di Kota Bandung tiba-tiba terlihat dipenuhi oleh poster-poster dengan ukuran yang amat sangat besar. Rupanya poster-poster tersebut datang dari pemerintah. Pada poster-poster tersebut tertulis beberapa kalimat (mungkin hanya satu kalimat) yang salah satunya kurang lebih berbunyi begini "Pendidikan adalah sarana penting dalam membangun masyarakat yang lebih baik". Lalu pada poster tersebut terlihat foto kegiatan belajar mengajar pada sebuah sekolah dasar. Tidak lupa, pada sisi kanan poster hadir pula Bapak Gubernur Jabar dengan tangannya yang menunjuk ke arah foto KBM tersebut yang seolah-olah menunjukan bahwa "ini loh potret pendidikan jabar kita yang sekarang, keren kan ?". Selain poster tersebut, saya perhatikan ada banyak poster-poster milik pemerintah yang tentunya memiliki tema yang berbeda (selain tema pendidikan) tersebar di jalanan-jalanan besar di Kota Bandung. Namun ada satu kesamaan dari poster pemerintah tersebut. Yaitu kehadiran bapak Gubernur Jabar yang konsisten dengan gesture-nya yang tidak berubah. Hebat sekali, bagaikan kampanye (mejeng) sebelum Pilkada dimulai. Dan lebih hebatnya lagi semua itu gratis karena biaya ditanggung oleh pemerintah!
      Sebagai selingan saja, saya pikir hanya saya saja yang cukup risih dengan kejutan beliau ini, namun ternyata ada teman Facebook saya yang meng-update statusnya dengan kalimat seperti ini : "Urusin tuh kelangkaan gas, bukannya malah mejeng terus" (tulisan aslinya pake bahasa sunda dan agak kasar dengan tujuan untuk menegur). Maklum saat itu seingat saya beberapa daerah di Kota Bandung sedang menghadapai kelangkaan distribusi gas.
      Hal menarik lainnya ialah tentang kemenangan suara Golput pada Pilkada Tersebut. Seperti kita ketahui bahwa jumlah suara Golput pada Pilkada Jabar kemarin mencapai angka 11.823.201 suaraAngka tersebut jauh lebih besar daripada jumlah suara yang dikantongi oleh pasangan Aher-Deddy (pemenang Pilkada) yang hanya mengantongi 6.515.313 suara. Tentunya banyak issue yang menyeruak terkait dengan fenomena ini. Mulai dari teori konspirasi para pengusaha yang telah "menyandra" hak suara para buruh melalui jadwal kerja yang tidak disesuaikan dengan waktu pemilihan hingga teori yang menyebutkan bahwa para calon pemimpin tidak mendapatkan simpati dari masyarakat sehingga masyarakat jadi malas untuk mendatangi TPS. Apapun alasannya saya rasa ini benar-benar temuan yang menarik, yang sudah sepantasnya perlu tindakan yang lebih serius lagi dari pihak yang berwenang (dan berani mungkin).
      Sekarang apakah mungkin bila pemimpin model lama bekerja sama dengan pemimpin model baru (dalam pencalonan, kerjasama bisa berupa menjadi pasangan) ? Entahlah, seharusnya sih akan ada pertentangan dalam batin si pemimpin model baru.
      Apakah politik pencitraan sudah benar-benar padam untuk era saat ini ? Untuk daerah-daerah besar, bisa dibilang iya! Namun masih ada alternatif lain sebetulnya. Sosok yang terlihat bijaksana, jujur, dan amanah bisa tampil dalam sosok yang sering kita lihat sehari-hari. Hal-hal tersebut bisa nampak dari hasil kreasi mereka, atau bahkan dari gesture dan ekspresi wajah mereka. Nah, bila sosok seperti ini yang sehari-harinya tidak erat dengan kepemimpinan (tidak berlatarbelakang pemerintahan, sehingga masyarakat hanya menduga-duga saja bahwa beliau mungkin akan cukup baik. bidang entertaiment mungkin ?), ditemukan oleh sang pemimpin model lama dan mereka berdua sepakat untuk bekerja sama, saya rasa ini akan sangat amat membantu bagi para pemimpin model lama.
      Namun sosok yang menyelamatkan para pemimpin model lama tersebut haruslah cukup populer  dan terlihat menjanjikan di kalangan masyarakat. Menurut saya, sulit sekali rasanya menemukan sosok seperti ini, namun rupanya ada dan ditemukan. :)
      Beralih ke Pilwakot Bandung yang sedang gencar-gencarnya memenuhi ruang-ruang publik di Kota Bandung denga poster-posternya. Bagi saya pada Pilwakot kali ini pun rupanya ada pertempuran antara pemimpin model baru dan pemimpin model lama. Pencitraan pun sudah mulai lebih bervariasi. Namun akankah pemimpin model baru berjaya di ajang kali ini mengingat sepak terjangnya (his actions) tidak begitu menyeruak seheboh Jokowi saat menjabat menjadi Wali Kota Solo ? Dan keliahatannya beliau belum se-fenomenal Jokowi yang mampu diterima dan meresap pada tiap unsur dan lapisan masyarakat. Tapi setidaknya saya yakin bahwa masyarakat Kota Bandung pun sudah mulai banyak memahami tentang politik pencitraan yang seringkali menipu. Dan semoga kita semua sudah cukup kapok untuk ditipu. ;)


Bagi Anda yang sedikit berputus asa dengan model pemimpin yang baik, semoga artikel berikut ini dapat sedikit mengurangi kekhawatiran kita : http://adesmurf.wordpress.com/2013/05/28/ga-229-soc-cgk/ ;)
Sabtu, 11 Mei 2013

Inspired before you expired!


Kebetulan hari ini kantor tempat saya bekerja mengadakan sebuah event internal yang bernama "Consultant Sharing". Event ini ditujukan sebagai wadah bagi para konsultan diperusahaan kami untuk berbagi pengalaman seputar pekerjaan konsultasi yang telah mereka kerjakan. Pada keynote speech yang diberikan oleh Chief kami yaitu Bapak Dimitri Mahayana, beliau sempat memainkan beberapa video dari youtube yang  membuat saya terhenyak sesaat dan kemudian terbawa oleh suasana yang mengharu biru. Beliau juga sempat bercerita tentang Anne Sullivan yang pantang menyerah dalam mengajar muridnya yang istimewa. Bersyukur karena selain ilmu dan pengetahuan teknis, spiritualitas dalam diri pun selalu berusaha kita hidupkan.


Emoticon on Post

Blogger templates

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Blogger news

Blogroll

Blogger templates

Blogger templates

Followers

Blogroll

Popular Posts

Search This Blog