Minggu, 15 Juli 2018

Belgia, juara 3 Piala Dunia 2018


Saya selalu merasa ada yang berbeda di World Cup kali ini. Kroasia masuk final, siapa  sangka? Secara garis besar, tim-tim besar kali ini bermain jelek. Argentina, Jerman, Spanyol dan.. sayangnya Brazil. Sebagai fans berat Messi, kali ini saya kecewa sama si idola. Inget banget waktu match pertama Argentina 1 - 1 Islandia, Messi ambil semua free kick sampai menit terakhir. Padahal sebagian besar free kick dia di match ini amburadul. Entah kenapa terkesan jadi egois di World Cup kali ini #baper.

Dilanjut sama match pertama dari Brazil, yang juga imbang 1 - 1 vs Swiss. Permainan Brazil di babak pertama berhasil buat saya yakin, tahun ini Brazil pasti yang juara. Gila. Operan cepat, cantik khas samba 1 babak penuh. Apalagi ditambah gocek-goceknya Neymar. Skor 1 - 0 untuk Brazil. Babak 2, mainnya gak karuan. Berasa nonton Liga Indonesia, operan-operan pendek manja aja tanpa inisiatif menyerang. Parahnya setelah kedudukan imbang ga ada perubahan dari permainan Brazil. Mereka memilih untuk bermain gaya-gaya samba, bukannya bermain ngotot. Padahal sepanjang pertandingan Swiss full bermain terbuka dan aktif menyerang, beda dengan Islandia yang fl bertahan setelah mengimbangi Argentina, salut.

Dan... masih banyak lagi yang lainnya. Akhirnya Perancis jadi satu-satunya tim besar yang paling stabil. Salah satu tontonan terbaik di World Cup tahun ini terjadi pada saat Mbape vs Argentina. Beneran berasa nonton Febri Hariyadi awal-awal di Persib. Siapa sih yang gak geleng-geleng? Cuma sayang banget banyak yang kecewa sama aksi diving Mbappe waktu lawan Uruguay. Diego Godin yang kalem aja sampe nafsu.

Terakhir, Inggris vs Belgia. Overall, lagi-lagi cenderung monoton kecuali serangan balik Belgia yang selalu efektif dan pembagian bola apik dari De Bruyne. Saat match berlangsung saya malah asyik buka YouTube liat-liat best match dari C. Ronaldo waktu di MU.

Apakah ekspektasi saya yang berlebihan atau memang World Cup kali ini istimewa, gak tau juga. 😅

Tapi saya ingin menuliskan ini sebagai experience pembanding untuk match-match lainnya.

Oh ya di match kali ini saya iseng tebak-tebakan sama istri tentang siapa yang juara ke 3, yang kalah nyiapin sarapan buat besok pagi. Mmmm,, besok nyiapin apa ya? 😄

Sabtu, 24 Maret 2018

Egoku


Ego bisa jadi lebih tinggi dari puncak Himalaya
Karena ia berbatas sedang ego bisa jadi tidak

Hati mungkin ia serapuh ranting dedaunan namun lebih sering kali dilihat bak danau hijau nan lapang

Ranting semakin merapuh kala terpaan badai bergerombol menghujam berganti hari demi hari

Ranting tak kuasa mencegah badai, awan hitam tak lagi dapat digiring. Ranting merana oleh awan hitam di puncak Himalaya

24 Maret 2018 21.30
Minggu, 25 Desember 2016

Cedera Saat Bermain Sepak Bola


Pagi ini tim kembali bermain di Lapangan Progresif; melawan tim CPP. Saya datang telat dan pemain benar-benar pas 11 orang menjelang kick-off. Dengan persiapan yang seadanya terpaksalah langsung bermain saja pemanasan pun nyolong-nyolong kesempatan di lapang. Hehe

Baru 5 menit pertandingan berjalan saya terpaksa harus melakukan sliding untuk mencegah crossing dari musuh. Sliding berhasil dengan bersih. Tapi sayang kaki kiri yang dilipat saat melakukan sliding harus menggasak lapang sintetis yang dipenuhin serbuk karet hitam kasar. Hasilnya lutut kiri pun terluka cukup lebar. Selain itu, bagian bawah yang tertutupi kaos kaki juga terasa perih; ternyata terdapat luka gesekan juga yang cukup lebar meskipun tidak separah luka pada lutut.

Sebetulnya sakitnya belum terlalu terasa, tapi supaya tidak lebih parah (karena pasti harus melakuka sliding lagi) saya langsung ke samping lapangan untuk menggunakan pelindung lutut yang sebelumnya saya tidak sempat pakai karena buru-buru.

Pelajaran yang didapat :
- Sebisa mungkin datang lebih pagi supaya persiapan lebih matang.
- Selalu gunakan perlengkapan lengkap terutama pelindung lutut jika bermain di posisi defender.
- Saat membeli kaos kaki upayakan untuk memilih yang berbahan tebal walau mungkin harganya sedikit lebih mahal karena ternyata kaos kaki berbahan tipis tidak mampu meredam gesekan antara dasar lapangan sintetis dengan kulit.

Mesikpun demikian overall saya senang sekali karena pada match tadi dapat berkontribusi cukup baik pada tim. Dan tim juga bermain dengan enjoy.

Pagi nanti rencananya akan jogging bersama si cinta dan teman-teman di Arcamanik Sport Center; semoga tidak berpengaruh jelek pada luka.


Lapang Progresif 24 Desember 2016

Kamis, 26 Mei 2016

Sepak Bola di Lapang Progresif vs Muthahari FC


Sabtu tanggal 30 April yang lalu saya dan tim kembali bermain sepakbola di Lapang Progresif. Kali ini merupakan laga persahabatan antara tim Soccer is Fun (teman-teman kantor & kerabat) vs Muthahari FC. Event ini agak berbeda dari biasanya. Biasanya perlu effort yang lumayan untuk mengumpulkan para pemain, tapi setiap kali bermain di Progresif pemain kami selalu berlimpah :))

Kami bermain sejak pukul 06.30-08.00. Beberapa teman sudah di lapang sejak pukul 06.00. Normalnya, untuk lapang besar kami biasa bermain pukul 07.00 dan pukul 08.00 untuk futsal. Pertimbangannya biasanya ialah faktor cuaca, bila bermain outdoor biasanya semakin siang semakin terasa panasnya.

Sampai kick-off dimulai ternyata skuad Muthahari FC masih belum lengkap, maka sebagian pemain kami bergabung dulu dengan skuad Muthahari FC, diantaranya : Mas Ali, Mas Angga, & Isal. Untuk match kali ini, berdasarkan instruksi dari coach Rayyan Conte kami menerapkan strategi deep defensive line, yaitu posisi pemain bek yang full bertahan; tidak maju lebih dari seperempat area lapang.

Pertimbangannya adalah untuk mengantisipasi umpan-umpan terobosan yang harus memaksa bek untuk beradu sprint dengan striker musuh. Dengan demikian kami sama sekali tidak menerapkan jebakan offside. Mengapa? pertimbangan utamanya ialah faktor fisik & tidak adanya hakim garis (hanya ada wasit utama). Kami merasa bahwa jebakan offside berpeluang besar untuk gagal. Baik dikarenakan gagal karena tidak dianggap oleh wasit, atau memang benar-benar gagal :)). Bila gagal, effort untuk mengejar bola jauh lebih sulit karena faktor fisik yang belum terlatih optimal untuk bermain di lapang besar (berbeda dengan futsal yang memiliki area sprint yang pendek).

Secara teoritis terlihat sempurna bukan? :)) Namun bukan sepakbola namanya bila tak ada dinamika dalam permainan. Saya berada diposisi center back, bertugas untuk mengatur kedalaman defensive line. Para defender berusaha sedisipllin mungkin untuk berada digaris yang sudah disepakati. Diluar perkiraan, saya melupakan efek dari strategi ini, yaitu bahwa musuh menjadi lebih leluasa untuk menggempur area pertahanan kami. Karena para defender sama sekali tidak mencoba untuk membantu melakukan pressing, maka kami benar-benar hanya membuang bola dan menunggu serangan berikutnya yang ternyata datang terus menerus. Hasilnya musuh benar-benar menguasai aliran bola, kami digempur habis-habisan.

Saya ingat betul, play maker di tim lawan (Pak Edi) benar-benar baik dalam mengatur tempo permainan dan membagi bola. Setelah serangan bertubi-tubi, Mas Alamsyah yang berada di posisi tengah berhasil menerobos ke area sebelah kanan pertahanan kami dan berhasil mengecoh kiper dengan melambungkan bola ke tiang jauh. Keadaan berubah menjadi 1-0 untuk kemenangan tim lawan. Setelahnya keadaan tidak jauh berbeda.

Kami pun bukannya tanpa peluang, namun memang seingat saya sering kandas di area tengah (untuk babak pertama saya kurang ingat, karena fokus bermain di belakang). Tidak lama berselang, Mas Alamsyah dengan pergerakan yang persis sama yaitu menusuk area pertahanan sisi kanan lalu melepaskan shooting mendatar ke tiang jauh berhasil membuat gol kedua sehingga skor menjadi 2-0. Lalu kami pun jeda istirahat untuk babak kedua.

Dibabak kedua terjadi pergantian pemain besar-besaran di kedua tim. Banyak pemain dari Muthahari FC yang sudah datang, sehingga Mas Ali & Mas Angga kembali bermain di tim kami, kecuali Isal yang masih bermain di tim musuh hingga pertandingan berakhir (betrayer nih Isal :))). Karena total pemain di tim kami cukup banyak, yaitu sekitar 20 orang. Maka hampir seluruh skuad di babak pertama diganti, termasuk saya.

Saya senang sekali dengan pergantian ini, selain untuk beristirahat ternyata kami berhasil melihat pola permainan musuh yang menekan mulai dari tengah lapang hingga bagian pertahanan kami. Awal babak pertama tim musuh sudah mencetak gol lagi, pemain sayap musuh berhasil melepaskan umpan crossing keras dari area pertahanan sebelah kiri, lalu berhasil disempurnakan oleh Agis yang tidak terjaga oleh bek. Skor menjadi 3-0. Tidak lama berselang kami sempat membalas (melalui gol dari mas motih kalau tidak salah, skema gol nya lupa T_T) sehingga merubah skor menjadi 3-1.

Setelah babak kedua berjalan 20 menit, para pemain musuh terus menekan dengan cara menarik pemain belakang mereka hingga setengah lapang. Kami bermain dengan tekanan dari setengah lapang. Saya & para pemain kami yang sedang beristirahat melihat ini dengan sangat jelas sehingga diputuskanlah untuk benar-benar menghilangkan strategi deep defensive line kami. Kesempatan datang, satu demi satu pemain yang beristirahat, termasuk saya, kini sudah dilapang. Kini para defender mencoba untuk bermain agresif dan ikut membantu menekan. Hasilnya ternyata sangat merubah keadaan. Kini keadaan berbalik kami menyerang tim lawan dari setengah lapang. Menurut analisa saya dengan memenuhi area tengah oleh defender dan mid fielder, play maker musuh menjadi tidak leluasa untuk membagi bola. Banyak sekali peluang yang kami peroleh, lebih banyak bila dibandingkan sebelumnya. Hingga akhirnya Mas Amir berhasil mencetak gol dengan shooting keras yang merubah keadaan menjadi 3-2.

Para defender pun bukannya tidak mendapat serangan, kami menjadi lebih sering sprint dan bermain lebih aktif memang, namun sangat sepadan dengan hasil yang didapatkan. Hingga peluit berbunyi skor tetap 3-2 untuk kemenangan lawan. Tapi saya pribadi merasa sangat senang karena berhasil merubah penguasaan permainan diakhir-akhir sisa pertandingan.

Diluar dari jalannya pertandingan & hasil yang didapat, kami senang karena laga digelar venue yang sangat bagus; para pemain Persib juga sering latihan di lapang Progresif ini :). Dengan lapang yang bagus para pemain dapat sedikit mengeliminir peluang untuk mendapatkan cedera & juga dapat bermain lebih maksimal tanpa kendala yang disebabkan oleh lapang, seperti arah bola yang berubah karena lapang tidak rata, laju bola yang tertahan oleh area becek, sprint yang tidak maksimal karena terdapat batu hingga garis lapang yang tidak terlihat.

Sabtu tanggal 28 ini, kami berencana untuk bermain kembali di lapang Progresif melawan tim CPP. Strategi sudah disiapkan kembali, bagaimana kira-kira hasilnya ya kali ini? :)

Meme Mas Motih buatan Kang Ope dari match sebelumnya di lapang Progresif 

*** foto lain menyusul ***

Selasa, 06 Januari 2015

Kebun Binatang


Setelah sekian lama -entah kapan terakhir kesana- akhirnya Sabtu kemarin saya dan beberapa orang teman pergi ke Kebun Binatang Bandung. Sebetulnya tujuan awalnya sih mau memancing di daerah Ciparay, cuma berhubung yang punya balongnya berhalangan akhirnya diputuskanlah untuk mencari alternatif liburan lain. Ada beberapa pilihan sebetulnya, seperti hiking ke taman wisata Curug Manglayang dan nongkrong di Bukit Moko. Namun dengan ajaib tiba-tiba diputuskanlah untuk main ke Kebun Binatang saja.
Dalam benak saya, seharusnya semua orang memang memiliki ketertarikan tersendiri untuk berkunjung kesana; berapapun usianya. Mungkin bisa juga disebut sebagai naluri, untuk mengunjungi spesies-spesies lain sesama penghuni bumi. Ya, semua berkumpul disana (termasuk kita kan? :P). Mereka semua adalah pemanis & pelengkap kehidupan manusia di bumi; sungguh Maha Agung yang menciptanya.
Dalam zaman modern seperti saat ini mereka (spesies-spesies lain) sering kali luput dari perhatian kita. Maksud saya, seberapa sering kita perhatikan semut-semut yang berlalu lalang di sekitar kita? betapa kaki-kaki kecil mereka sungguh ajaib; bisa berjalan disegala permukaan, horizontal & vertikal, seakan-akan hukum gravitasi berbaik hati pada mereka. Atau pernah dengarkah kita kisah para Elang Emas peliharaan penduduk Mongolia yang digunakan untuk berburu serigala?
Ya, rutinitas memang telah menyita sebagian energi dan pikiran kita. Kadang saya suka membayangkan, di zaman dulu, saat manusia hanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya saja (hanya bertani saja mungkin), sehingga lebih memiliki banyak waktu luang, apa yang mereka lakukan? Mungkin bisa jadi sisa waktunya digunakan untuk mengeksplor alam raya ini, flora & fauna -nya, seolah-olah memang naluri yang menuntunnya untuk dekat dengan alam. Itu hanya salah satu hipotesa saja bila kita ingin memandang bahwa beberapa masyarakat adat yang mengeramatkan suatu wilayah atau suatu spesies, sebetulnya berniat untuk menghargai mereka, lebih tinggi dari itu, menghargai penciptanya. Tapi itu hanya hipotesa saya saja sih, dan keliatannya interpretasi dari konsep itu kian memudar karena terkadang ritualnya dilakukan sangat serius sedangkan filosofinya tidak terlalu. Haduuuh ini ngomongin apa sih... -_-
Bagi saya, dalam setiap rupa spesies-spesies yang ada dimuka bumi, seluruhnya terkandung keajaiban, seluruhnya indah. Dulu saya sering memperhatikan motif dan tekstur dari helaian bulu-bulu merpati; bagi saya itu rumit dan indah. Atau seluruh pada burung merak -ujung paruh hingga ujung ekor? Menakjubkan. Bagaimana dengan seluruh yang ada pada burung elang? kawan saya menyimpulkannya dengan satu kata "Gagah".
Hal-hal diatas nampak lebih ajaib bila kita melihat kembali pada masa permulaannya; sebutir telur. Sebutir telur elang, menyimpan seluruh informasi dan karakteristik dari elang. Sehingga tak peduli siapa pun yang mengeraminya, ketika ia menetas ia tetaplah seekor elang yang akan tumbuh besar dengan paruhnya yang meruncing, dan seluruh keelokan lainnya. Ajaib, semuanya terkandung dalam sebutir telur!

"Oh Tuhan, sungguh Engkaulah Maha Pencipta yang paling sempurna, tiada sia-sia segala yang Kau cipta, demi hak Muhammad dan Keluarga Muhammad sebagaimana kau ciptakan bagi kami kehidupan di bumi-Mu maka tuntunlah kami untuk memahaminya."


Berhasil memfoto buaya yang sedang bejemur dari jarak yang cukup dekat

Sepasang burung Flaminggo dalam habitat buatan yang asri

Berfoto dengan ikan Arapaima sepanjang 1.8 m

Bersiap-siap 2 on 2 suit jepang

Harimau, salah satu lokasi yang paling populer di kebun binatang

Berfoto dengan salah satu hewan favorit saya, Elang; yang ini berjenis Ular Bido

Merak, tetap anggun dengan ekor terurai menyentuh tanah




Selasa, 30 Desember 2014

Bertemu Pak Presiden


Setelah sekian lama males ngeblog akhirnya malam ini memutuskan untuk nulis lagi. *hore*. Hari ini saya kembali berkunjung ke Indramayu tepatnya ke Karangsong; kali ini berdua dengan Mas Tisna dan kembali menginap di hotel yang sama. Walaupun sudah sering menginap disini, namun kali ini perlu perjuangan untuk menginap disini. Ternyata semua hotel di Indramayu kota sudah pada penuh untuk 2 hari kedepan. Kelihatannya semua pengunjung punya tujuan yang sama; bertemu Pak Presiden.
Besok, tanggal 18 Desember Pak Jokowi memang diagendakan untuk mengunjungi TPI Karangsong di Indramayu. TPI ini memang salah satu yang terbaik di Indonesia; pengelolanya ialah Koperasi Mina Sumitra. Bayangkan saja omzet selama 3 tahun terakhir berada dikisaran 300-400 Miliar Rupiah per Tahunnya. Dalam satu hari dengan jam operasional pkl 07.00 - 13.00 rupiah yang berputar bisa mencapai 1 M. Kalau Mas Tisna sih suka bergurau : "Ah ini sih bukan koperasi namanya.." :P
Sekedar catatan, saat ini di Indonesia TPI biasanya dikelola oleh 2 jenis institusi yaitu Koperasi dan Pemerintah melalui Dinas Perikanan. Kelebihan dan kekurangannya ? Nanti akan saya coba ungkapkan dari sudut pandang saya kalau ada kesempatan. :P
Kembali lagi ke Karangsong, banyak hal menarik yang saya temukan disini. Kantor tempat saya bekerja memang sudah memulai kerjasama dengan pihak KPL Mina Sumitra sejak bulan Mei tahun ini. Mulai dari sana banyak sudut pandang dan fakta-fakta baru yang saya ketahui tentang dunia dan kehidupan nelayan di Indonesia. Hal yang paling menarik disini ialah kesejahteraan nelayan yang dibilang sangat baik. Bayangkan saja untuk satu kali trip (melaut) seorang ABK bisa mendapatkan gaji hingga 8 juta rupiah! sedangkan Juru Mesin mendapat 1.5 kali lipat dan Nahkodanya 2 kali lipat dari ABK biasa. Waw, is that true ? yes!!!
Hal ini dapat terwujud karena Mina Sumitra sebagai pengelola TPI yang juga menyediakan layanan pinjaman untuk keperluan perbekalan melaut mewajibkan seluruh Kapal yang terdaftar wajib menerapkan sistem bagi hasil dalam pembagian upahnya. Komposisi bagi hasilnya ialah : 60% untuk juragan (pemilik kapal), 40% sisanya dibagi untuk ABK, jurumesin dan Nakhoda dengan porsi yang telah disebutkan sebelumnya. Sebetulnya juragan hanya mendapatkan 40%, karena 20% nya wajib digunakan untuk biaya maintenance kapal (mesin, alat tangkap, dll) untuk persiapan trip selanjutnya.
Ada banyak keuntungan dari sistem bagi hasil ini; selain sudah pasti nelayan lebih makmur, kapal juga cenderung lebih terawat. Loh apa hubungannya ya ? menurut salah seorang juragan yang sempat kami wawancarai, dengan sistem bagi hasil ABK akan juga merasa memiliki kapal, karena bila terjadi sesuatu pada kapal maka mereka pun akan merasakan dampaknya secara langsung (bagiannya berkurang karena harus memperbaiki kapal).
Kalau ada kesempatan mungkin akan saya tuliskan inovasi-inovasi lainnya yang telah dilakukan oleh KPL Mina Sumitra ini; barangkali bisa menginspirasi para pengelola TPI lainnya. :P
Sebetulnya judul posting kali ini saya akui sangat provokatif karena mungkin para pembaca mengira bahwa saya benar-benar berjumpa dua arah dengan Pak Jokowi; anggap saja saya sedang mengikuti gaya penjudulan berita oleh beberapa media mainstream belakangan ini. Hal serupa saya rasakan saat saya mengklik brita dengan judul : MU Incar Indra Sjafri dan Alfred Riedl. Yes I thought it was Manchester United. :P

17 Desember 2014

****

[Update]

Kembali lagi ke Pak Presiden dan acaranya. Ternyata acara tersebut diadakan oleh OJK dan LJK dengan agenda utama peluncuran Layanan Keuangan Mikro (LMK). Jadi ada sekitar ~8 bank besar yang berpartisipasi & memasang stand-nya disana. Dan..... ternyata Pak Presiden berhalangan hadir T_T. Beliau digantikan oleh Bapak Menko bidang Maritim. Meskipun demikian yang terpenting ialah agenda utama alias urusan kantor dengan KPL berhasil diselesaikan.


Gerbang Masuk TPI dirias sedemikian rupa untuk menyambut para tamu undangan


Kehadiran Pak Presiden menarik antusias warga untuk turut hadir di TPI


Pak Menko sedang blusukan diikuti oleh awak media; sayang gambarnya kurang jelas.


Suasana TPI saat acara berlangsung : terlihat sedikit lebih lengang dibandingkan hari-hari biasa.


Kapal-kapal berukuran 15-30 GT yang sedang atau baru selesai melakukan bongkar di area TPI


Mas Tisna berpose di panggung utama acara


30 Desember 2014

****
Sabtu, 27 Juli 2013

Mereka Disini..


Belakangan ini aku tengah sering terkagum-kagum dengan mereka para orang-orang inspiratif yang ku temui dalam keseharian. Diantara mereka ada seorang News Anchor wanita dari stasiun TV milik pemerintah yang telah memutuskan untuk "merantau" semenjak lulus SMK. Ada juga seorang kawan yang sekarang tinggal dan bekerja di Eropa. Juga ada pula sepasang suami istri yang menghabiskan waktunya selama bertahun-tahun bekerja negara Iran. Tentu saja rasa kagum pada mereka bervariatif, masing-masing memiliki keistimewaan tersendiri bagiku.
Sebagaimana aku yang masih sangat gemar untuk menelurusi jalan-jalan pencarian akan segala pemahaman akan makna-makna dibalik setiap sikap yang dapat mendamaikan hati, sedikit-banyaknya mereka semua memiliki andil tersendiri dalam mengisi relung-relung renungan ini.
Namun kini aku menyadari bahwa ternyata mereka, para orang-orang yang istimewa ini silih berganti berpapasan dalam keseharianku. Bagaimana bisa remaja pengedar kue itu, yang setiap hari tak pernah lelah mengunjungi kantorku untuk menawarkan dagangannya bisa luput begitu saja ? Bagaimana pula dengan kawanku yang baik itu ? yang tak pergi jauh untuk mengejar hal-hal duniawi yang berlebihan, yang dengan bahagia tinggal bersama kami untuk mengajari kami ? Lalu dan kakek tukang becak itu, yang tak pernah diam di becaknya, melainkan berdiri dipersimpangan untuk sekedar mengatur lalu lintas yang seringkali tidak terlalu ramai.itu ?
Seakan-akan aku memahami bahwa mereka semua memang sengaja Tuhan tebarkan di sekeliling kita 
sebagai bahan renungan bagi hamba-hamba-Nya.
Oh Tuhan, jangan biarkan diri kami berpaling dari rahmat serta petunjuk-Mu......

Emoticon on Post

Blogger templates

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Blogger news

Blogroll

Blogger templates

Blogger templates

Followers

Blogroll

Popular Posts

Search This Blog